Ibunya Diikat dipohon dan Anak Gadisnya Disiksa Jadi Viral di Medsos

- Jumat, 14 September 2018 11:47 WIB


GARIS KOTA, Medan -Viral di Media Sosial (Medsos) di mana rekaman video yang diunggah Siliyana di akun facebooknya pada Rabu (12/9/2018) masih terlihat luka lebam di wajahnya. Sembari menangis, korban (Siliyana) meminta pertolongan kepada warga, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan jurnalis agar menolongnya bersama ibunya karena menjadi korban persekusi.

Di mana isi fbnya, Siliyana menuliskan kisah yang dialaminya sepertu berikut ini: "Hari ini saya sebagai warga Indonesia menanyakan dimana keadilan itu.. saya hanya anak dari keluarga tidak mampu yang dianiaya.. kemana masyarakat indonesia yang cinta kedamaian.. lihat si pemilik mobil putih yg menganggarkan harta dan premanismenya menganiaya seorang anak gadis yg hanya ingin membela seorg ibu nya ..bagaimana mereka yg memakan uang rakyat ??

lalu apa bedanya kami yg justru melakukan sebuah kekeliruan kecil yg di besar2kan kami,dan menambah fitnah. saya harap buat saudara2 smua yang melihat postingan saya, meluangkan waktu untuk menshare kisah seorang anak yang ingin menyelamatkan ibu nya," .

Seperti dituturkan Siliyana dalam videonya, peristiwa itu berawal ketika ibunya didatangi dua orang anak salah satunya bernama Basir- yang berniat menjualkan sepatu, yang pada akhirnya diketahui merupakan barang curian.

"Awalnya ibu saya menolak. Tapi anak itu memaksa dengan alasan mau membeli nasi karena belum makan," tutur Siliyana.

Akhirnya, menurut Siliyana, ibunnya pun membeli sepatu itu karena kasihan. Namun keesokan harinya, saat Siliyana masih tidur, tiba-tiba dia dibanguni para tetangganya, yang mengakatakan bahwa ibunya sudah diarak oleh warga karena dituduh menjadi penadah barang curian.

Mendengar itu, Siliyana bergegas menuju lokasi . Tiba di lokasi, menurut Siliyana, dia terkejut karena melihat ibunya sudah diikat mirip binatang dengan hanya mengenakan pakaian dalam. "Dikalungkan karton, dikalungkan sepatu yang dia beli," tutur Siliyana, berurai air mata.

Melihat itu, Siliayana langsung berlari untuk menolong sang ibu. Namun, masih menurut Siliyana, ketika dia ingin melepas kalung karton dan sepatu dari leher ibunya itu, seorang pria yang disebut sebagai tokoh masyarakat yang cukup dikenal tiba-tiba meninju gadis itu.

Pria tersebut, menurut Siliyana kemudian bertanya, "Siapa kau?". Pertanyaan itu dijawab Siliyana, "Aku anaknya! Bapak hanya seorang manusia biasa. Bapak bukan Tuhan yang berhak menghakimi!"

Jawaban itu kemudian dibalas dengan dua lagi pukulan yang bersarang di bibir Siliyana. Akibatnya, bibir gadis itu pecah dan bengkak. Setelah itu, Siliyana masih mencoba mendekati ibunya. Tapi kemudian dia ditahan oleh beberapa warga. Selanjutnya, warga mengarak ibunnya yang hanya mengenakan pakaian dalam tersebut ke seluruh kampung.

"Mereka memberi kami 2 pilihan. Kami pergi dari kampung ini atau usaha kedai tuak mamak saya dihancurkan," sebut Siliyana.

Kenyataannya, lanjut Angelita, kedai tuak semi permanen milik ibunya hancur porak-poranda. Selain itu, menurut Angelita, warga juga mengambil paksa dua sepeda motor dari rumahnya dan menuduh bahwa motor itu juga adalah barang curian.

Angelita mengaku setelah kejadian itu, ia melapor ke Polrestabes Medan dan sudah ke rumah sakit untuk visum. Angelita dan ibunya bukanlah orang yang sempurna, namun ia berharap mendapatkan keadilan.

Diakhir videonya, Siliyana berharap agar pihak berwenang bisa bertindak dan adil terhadap keluarganya dan para pelaku. Siliyana juga mengaku sudah membuat laporan ke Mapolrestabes Medan dan sudah melakukan visum.

Terpisah, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira, ketika dikonfirmasi, Kamis (13/9/2018) siang, mengaku sudah menerima laporan korban. "Ya benar sudah membuat laporan," katanya.

Saat disinggung motif dan siapa saja terduga pelakunya, Putu mengaku belum mengetahuinya. "Masih dalam penyelidikan," akunya.

Editor: wiwin

T#gs Berita KriminalKriminalMapolrestabes MedanPerkusi
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments